5 Fakta Menakjubkan Tentang Sejarah Monas Jakarta

5 fakta menakjubkan tentang sejarah monas jakarta

5 Fakta Menakjubkan Tentang Sejarah Monas Jakarta Monas atau Monumen Nasional adalah lambang kota Jakarta. Terletak di pusat kota Jakarta, fokus wisata dan instruktif yang menarik bagi masyarakat umum Jakarta dan wilayah sekitarnya. Monas berdiri tahun 1959 dan dirintis dua tahun setelah berdiri tahun 1961.

Monas selalu ramai dikunjungi wisatawan untuk melihat keindahan Jakarta dari titik tertinggi Monas, termasuk memahami latar belakang sejarah ruang diorama Indonesia atau mengapresiasi kawasan hutan kota baru seluas sekitar 80 hektar di tengah-tengah Jakarta. Berikut ini beberapa fakta tentang Monas Jakarta yang jarang diketahui orang.

  1. Simbol api di puncak Monumen Nasional

Tinggi monumen sekitar 132 meter, di titik tertinggi landmark ini terdapat kaca dengan nyala api terbaik. Lidah api di landmark ini terbuat dari perunggu setinggi 14 meter yang juga dilapisi emas 45 kg. Api ini melambangkan jiwa pertempuran yang mendidih dari semua legenda Indonesia. Titik tertinggi dari landmark ini berupa lidah api yang terbuat dari emas murni seberat 15,5 ton dengan jarak lebar 6 meter dan tinggi 17 meter. Api ini melambangkan jiwa peperangan masyarakat Indonesia secara umum yang mendidih melawan para pelanggar.

  1. Simbol Hari Kemerdekaan

Soedarsono, insinyur yang merancang tugu nasional mengambil beberapa komponen ketika Proklamasi Kemerdekaan yang melambangkan pemberontakan nasional sebisa mungkin menerapkannya pada ukuran komposisi angka 17, 8, dan 45 sebagai sosok keramat Hari Proklamasi. Keadaan seluruh garis rekayasa tengara ini merangkum garis-garis yang bergerak tidak merata, menekuk, melompat, sekali lagi secara seragam, dan naik melampaui, pasti menjatuhkan jenis api yang membakar. Tubuh landmark yang menjulang tinggi dengan suar di puncaknya melambangkan dan menerangi jiwa yang menggerogoti dan tak kunjung padam di dada negara Indonesia.

  1. Teuku Markam pendonor untuk Monumen Nasional

Jika dibuat sebelumnya, emas yang digunakan untuk melapisi gambar api itu memiliki berat 35 kilogram. Pada tahun 1995, ketika Indonesia memuji peringatan gemilang kemerdekaan, lapisan emas termasuk dalam 50 pound. Tahukah Anda siapa yang menyumbangkan 28 kilogram emas di titik tertinggi Monas? Dia adalah Teuku Markam, pedagang asal Nanggroe Aceh Darussalam. Di tengah masa hidupnya, Teuku Markam terus berjuang untuk bangsa dan kemudian menendang ember pada tahun 1985.

  1. Museum Perjuangan Nasional di dalam karya Monas

Di bagian bawah landmark terdapat sebuah ruangan yaitu Museum Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia. Ada pertempuran dari kerangka waktu kerajaan hingga musim G30SPKI. Di Monas Anda akan dan menjadi lebih akrab dengan lebih banyak pertempuran. Konsekuensinya akan timbul rasa jiwa patriotisme bagi Anda sebagai negara Indonesia.

  1. Ruang “Kemerdekaan”

Kemerdekaan menyiratkan kemerdekaan. Di dasar Monas terdapat Ruang Kemerdekaan yang menceritakan tentang otonomi Indonesia. Ada juga hal-hal penting yang menyukai kebebasan. Diantaranya adalah gubahan pertama Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam pintu masuk berlapis emas. Jika Anda memasuki pintu masuk ini, Anda akan mendengar lagu “Padamu Negeri” dan dikejar oleh suara dari Presiden Indonesia sebelumnya Soekarno yang membacakan salinan asli Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945. Ada gambar negara, NKRI pedoman nusantara, bendera merah putih dan selanjutnya massa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.